Menjaga Sanad Ilmu di Akhir Zaman: Intisari Ngaji "Sarungan" PRNU Kemirimuka
Redi · 26 Juli 2026
Kegiatan rutin "Sarungan" (Silaturahmi Sareng Jagongan) PRNU Kemirimuka pada Jumat, 24 Juli 2026, membedah kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah mahakarya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari. Bersama KH. Amir Mahmud, kajian kali ini secara khusus mengupas peringatan Rasulullah ﷺ tentang fenomena akhir zaman terkait hilangnya ilmu agama.

Berikut adalah poin-poin penting (intisari) dari kajian tersebut:
- Ilmu Hilang Melalui Wafatnya Ulama Mengutip penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani dan hadits riwayat Abu Umamah, hilangnya ilmu di muka bumi tidak ditandai dengan lenyapnya teks mushaf atau buku-buku agama, melainkan melalui wafatnya para ulama sebagai pembawa ilmu dan penjaga sanad.
- Bahaya Mengambil Ilmu dari Orang Tanpa Kapasitas Ketika ulama besar telah tiada, umat berpotensi menjadikan orang-orang yang fakir ilmu sebagai rujukan. Sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu secara tegas memperingatkan bahwa umat akan binasa ketika mulai mengambil agama dari mereka yang tidak berkapasitas dan lebih mengedepankan hawa nafsu, yang pada akhirnya memicu perpecahan.
- Ancaman Mengandalkan Logika Semata (Ra'yu) Sejarah Bani Israil menjadi pelajaran krusial. Tradisi keilmuan mereka hancur ketika muncul generasi yang berani mengeluarkan pendapat hanya berlandaskan akal pikiran (logika) tanpa mengindahkan wahyu. Mbah Hasyim mengingatkan agar umat senantiasa berpegang teguh pada As-Sunan (sunnah-sunnah Nabi) sebagai penopang utama agama agar tidak tersesat.
- Peringatan Agar Tidak Mengikuti Tradisi Menyimpang Dicantumkan pula hadits riwayat Al-Bukhari yang mengingatkan umat Islam agar tidak terjerumus mengikuti jejak penyimpangan umat-umat terdahulu (seperti Yahudi dan Nasrani) "sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta". Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di akhir zaman, kebid'ahan dan hawa nafsu akan merajalela, dan kemurnian agama hanya akan dipertahankan oleh segelintir orang yang istiqamah.
Refleksi
Menghadapi tantangan akhir zaman dan maraknya paham-paham baru, mengkaji langsung mahakarya muassis NU ini adalah cara warga nahdliyyin agar tidak kehilangan arah. Kita dituntut untuk terus menjaga sanad keilmuan melalui para kiai yang tepercaya serta konsisten merawat tradisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah.